Kalau ngomongin olahraga, yang kebayang biasanya sepak bola, basket, tenis, atau olahraga ekstrem yang bikin jantung berasa copot. Tapi Swiss punya olahraga yang bentuknya benar-benar beda, namanya Hornussen. Sekilas, olahraga ini terlihat seperti campuran baseball, golf, dan permainan tradisional pedesaan. Yang bikin makin unik, benda yang menjadi bagian dari sejarah permainan ini dulu bisa dibuat dari tanduk atau kayu, sebelum berkembang menjadi bentuk modern yang menggunakan keping khusus bernama Nouss atau Hornuss. Jadi, anggapan bahwa Hornussen sekarang dimainkan dengan tanduk sapi perlu sedikit diluruskan: unsur tanduk memang ada dalam sejarahnya, tetapi perlengkapan modernnya bukan tanduk sapi. Tradisi ini dipercaya sudah berakar sejak berabad-abad lalu dan kemudian berkembang menjadi salah satu dari tiga olahraga nasional tradisional Swiss, bersama Schwingen dan Steinstossen. Bentuk modernnya kemungkinan besar berkembang dari kawasan Emmental dan sudah tercatat secara tertulis sejak 1625.
1. Sejarahnya ternyata panjang banget. Hornussen bukan olahraga baru yang tiba-tiba dibuat untuk hiburan turis. Catatan tertulis mengenai permainan ini sudah muncul pada abad ke-17, sementara berbagai bentuk permainan memukul benda hingga melayang memang sudah dikenal di kawasan Swiss sebelumnya. Bahkan ada teori yang menghubungkannya dengan kebiasaan lama memukul kayu yang terbakar dari gunung ke lembah untuk mengusir roh.
2. Cara mainnya bikin orang pertama kali lihat pasti bengong. Pemain memukul Nouss dari sebuah landasan menggunakan tongkat elastis panjang. Benda kecil itu kemudian melesat ke area lawan, sementara tim bertahan harus mencoba menghentikannya menggunakan papan kayu yang disebut Schindel sebelum Nouss menyentuh tanah. Jadi, satu tim bukan cuma harus jago mukul, tapi juga harus punya refleks dan kemampuan membaca arah benda yang melaju.
3. Kecepatannya bukan kaleng-kaleng. Pengukuran biomekanik yang dikutip Switzerland Tourism menunjukkan Nouss bisa mencapai sekitar 85 meter per detik atau 306 km/jam, dengan ketinggian terbang sekitar 50–70 meter dan jarak hingga 330 meter. Artinya, benda kecil yang kelihatannya sederhana itu bisa meluncur dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada yang mungkin dibayangkan orang awam.
4. Dulu olahraga ini juga punya fungsi sosial. Hornussen awalnya banyak dimainkan para petani muda di lapangan setelah masa panen. Pertandingan antardesa bukan cuma soal menang-kalah, tetapi juga menjadi ajang adu kekuatan dan bahkan membantu meredakan perselisihan antarkelompok. Seiring waktu, permainan yang awalnya sangat dekat dengan kehidupan pedesaan itu berubah menjadi olahraga terorganisasi. Pada 1902, Federasi Hornussen Swiss didirikan di Burgdorf.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah, Hornussen sebenarnya menarik karena menggabungkan kecepatan reaksi, koordinasi mata-tangan, prediksi lintasan, dan kontrol gerakan tubuh. Pemain bertahan harus memperkirakan posisi Nouss yang bergerak sangat cepat, kemudian menentukan kapan dan ke mana Schindel harus diarahkan. Dalam istilah sederhana, otak harus terus melakukan “hitung-hitungan” posisi dan waktu secara cepat berdasarkan informasi visual. Dari sisi biomekanik, pukulan juga memanfaatkan gerakan berantai dari tubuh hingga tongkat untuk menghasilkan kecepatan tinggi. Nggak heran kalau olahraga ini punya risiko cedera serius jika keselamatan diabaikan; sebuah penelitian medis bahkan mencatat adanya cedera akibat benda dan perlengkapan permainan Hornussen. Menariknya lagi, Hornussen kini nggak lagi eksklusif untuk laki-laki. Perempuan dan anak perempuan juga sudah ikut bermain dan terintegrasi dalam tim.
Pada akhirnya, Hornussen menunjukkan kalau olahraga nggak selalu harus modern, stadionnya megah, atau aturannya familiar. Dari permainan pedesaan yang punya sejarah panjang, olahraga ini berhasil bertahan dan menjadi bagian dari identitas budaya Swiss. Dan meskipun cerita tentang tanduk sapi terdengar paling nyentrik, justru perjalanan dari benda tradisional hingga olahraga modern inilah yang bikin Hornussen semakin menarik.